WHAT'S NEW?
Loading...
"Peanut For You" : Trump Berhasil Menjual Senjata Ke Arab SaudiMilyaran Dollar
Putra Mahkota Saudi Arabia Pangeran Mohammed Bin Salman mengawali lawatan ke Amerika Serikat Senin 19 Maret lalu. Pokok agenda pembicaraan antara Sang Pangeran dengan Presiden US Donald Trump adalah isu Iran dan Yaman. Perang Yaman sendiri, menurut PBB telah menewaskan lebih dari 10.000 jiwa,baik karena serangan udara maupun karena blokade laut yang menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan.
Dalam pertemuan kedua tokoh tersebut, Presiden AS Donald Trump membawa beberapa gambar senjata Amerika dan membanggakan penjualan senjata bernilai miliaran dolar ke kerajaan Saudi Arabia. Trump menunjukkan kepada wartawan sebuah gambar bertuliskan "12.5 billion in finalized sales to Saudi Arabia," (Penjualan ke Arab Saudi senilai 12,5 Milyar Dollar telah berhasil). Trump menyombongkan nilai nominal yang akan diperoleh kontraktor pertahanan AS atas produk mereka.
"Tiga miliar dolar, 533 ... juta dolar, 525 ... juta dolar," kata Trump sambil menunjuk foto-foto itu. Kemudian dia berpaling kepada putra mahkota dan menambahkan: "That's Peanuts For You,!" ( Itu kacang untukmu!").Penguasa de facto Saudi itupun tertawa terbahak-bahak.
Trump mengkritik pendahulunya, Barack Obama, atas keadaan buruk hubungan antara AS dan Arab Saudi di bawah masa jabatannya. Dia mencatat dampak ekonomi dari kebijakan tersebut terhadap pekerjaan dan penjualan di Amerika.
Yaman sendiri adalah tetangga dekat Saudi dan merupakan negara termiskin di kawasan.Konflik Yaman sendiri sudah berlangsung hampir 3 tahun. Lebih dari 10.000 warga sipil Yaman telah tewas, bencana kelaparan, epidemi kolera yang mematikan serta kematian akibat gempuran serangan udara Saudi telah melahirkan salah satu bencana kemanusiaan yang terbesar dalam dekade ini.
Sejak 2015, AS telah mendukung pasukan Saudi dengan intelijen, amunisi dan pengisian bahan bakar dan telah menjadi pemasok utama senjata ke Arab Saudi dan sekutunya dalam konflik. Pada Oktober 2017, AS telah menyediakan lebih dari 80 juta pons bahan bakar dan mengisi bahan bakar lebih dari 10.400 kapal di wilayah Yaman, menurut Military.com.
Nuklir Arab Saudi
Pangeran Mohammed bin Salman,dalam sesi wawancara dengan CBS News,mengungkapkan bahwa Arab Saudi juga bermaksud mengembangkan bom nuklir jika Iran mengembangkan nuklir juga.Menurutnya, ini merupakan tindakan pencegahan jika Iran dianggap menganggu eksistensi Arab Saudi di Timur Tengah.
Di era kepemimpinan Trump, nampaknya kebijakan Amerika Serikat terkait program nuklir Iran pun akan mengalami revisi. Bagi Trump, kebijakan Obama sebelumnya dianggap sebagai kebijakan yang buruk , dan dia akan keluar dari perjanjian tersebut serta memberikan sanksi yang lebih keras terhadap Iran.
Sentimen Trump terhadap Iran tentu saja tidak bisa dilepaskan dari upaya Trump untuk melindungi sekutu tradisionalnya di Timur Tengah yaitu Arab Saudi. Keinginan Pangeran Mohammed untuk memproduksi nuklir jika Iran tetap mengembangkan program nuklirnya memiliki setidaknya dua faktor.Yang pertama, ancaman. Dalam konteks realisme politik,ancaman harus dibalas ancaman.Artinya bahwa ketika Iran memiliki senjata nuklir meskipun sebenarnya dinyatakan berulang kali untuk tujuan damai,Arab Saudi yang memiliki akar permusuhan dengan Iran baik atas dasar sentimen Sunni - Syiah maupun agenda politik di Timur Tengah, merasa terancam. Untuk itu dalam rangka menghadapi ancaman, mengancam balik merupakan solusi yang dipilih Saudi. Iran juga dianggap sebagai ancaman bagi Saudi, karena pengaruhnya dianggap kian menguat di kawasan.
Yang kedua, dukungan AS pasca terpilihnya Trump sebagai presiden AS,hubungan AS dan Arab Saudi relatif lebih mesar jika dibandingkan di era Obama. Dukungan penuh Trump ke Arab Saudi bisa dilihat dari pembelaan AS dalam setiap kebijakan Arab Saudi di wilayah Timur Tengah. Dan tentu saja terkait keinginan Arab Saudi untuk membuat bom nuklir, AS tentu akan memberikan dukungan penuh. Apalagi dalam hal material bom nuklir,Arab Saudi sudah berinvestasi di Pakistan. Menurut Amos Yadlin ,selaku mantan kepala intelejen militer Israel,Arab Saudi tinggal membawa dari Pakistan. Salah satu alasan mengapa Arab Saudi berinvestasi nuklir di Pakistan adalah karena Arab Saudi sudah menandatangani Non-Proliferation Treaty (NPT) pada tahun 1988. Dalam traktat ini setiap negara dilarang mengembangkan senjata nuklir.

0 komentar:
Posting Komentar