Tembang (Lagu) Ilir-ilir ini telah digubah berabad lalu, Kanjeng Sunan Kalijaga sendiri lahir pada tahun 1455 M, dan merupakan salah satu dari Wali Sanga , penyebar agama Islam di tlatah ( daratan ) Jawa. Namun mengkaji makna nya dengan lebih dalam akan mengantarkan kita pada sebuah pemahaman bahwa tembang ini mampu menembus lintasan waktu dan budaya, memproyeksikan masa depan dan masih sangat relevan dengan kondisi negeri ini dan tlatah Jawa pada khususnya.
Ilir-ilir
Lir ilir lir ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulange,
mumpung jembar kalangane,
Yo surak o...., surak iyo ...
Tembang ilir-ilir ini tidak saja mengandung filosofi yang dalam tentang hakikat kehidupan, namun rangkaian nadanya juga begitu indah. Hingga tidak heran apabila seorang profesor harpa dari Arizona University, Carrol McLaughlin, terkagum dengan tembang ini, dan beliaupun sering memainkannya.
Salah Satu Tafsir Tembang Ilir-ilir
Apa yang saya uraikan di bawah ini , mungkin hanya salah satu saja dari sekian tafsir yang lahir dari tembang ilir-ilir. Dan siapapun boleh dan berhak untuk mentafsiri sesuai jaman , sesuai sudut pandang , sesuai wawasan dan latar belakangnya....sah dan tidak ada larangan. Salah satu tafsir versi budayawan Jogja , yang dikenal dengan sebutan "Kyai Mbeling" ( Emha Ainun Najib) :
Lir-ilir tafsir makna nya dari kata nglilir (bahasa Jawa = terbangun dari tidur ), menggeliatlah dari matimu, sadarlah dari pingsanmu, bangkitlah dari tidur panjangmu, dari kemalasan dan kebodohan.
Tandure wes sumilir . Tak ijo royo-royo. Tak sengguh temanten anyar ,tafsir maknanya : Lihatlah negerimu ini bagaikan percikan surga yang tercecer di bumi,kau bisa menanam apapun diatasnya, dan pasti tumbuh karena kesuburannya yang tiada tara. Maka, seharusnya tidak boleh ada kelaparan di atasnya, tidak boleh ada penderitaan. Sebagaimana bahagia dan meriahnya pesta perayaan pengantin. Tidak ada duka dan nestapa.
Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi, tafsir maknanya : Wahai kalian para penggembala ( Bahasa Jawa : cah angon = penggembala ternak ), entah itu para ulama, para pejabat negara atau kalangan intelektual yang memiliki kewajiban untuk membimbing masyarakat. Penekno blimbing kuwi tafsir maknanya : ayo panjatlah pohon perjuangan (blimbing ).
Lunyu-lunyu yo penekno.Kanggo mbasuh dodot iro , tafsir maknanya : sekalipun licin,pedih dan menyakitkan, untuk mengambil buah perjuangan (blimbing ) demi kesejahteraan bersama (seluruh rakyat) agar diingat supaya buah belimbing itu untuk dinikmati bersama-sama bukan untuk dimakan sendiri, baik oleh orang tertentu maupun golongannya.Pohon itu dipanjat dengan segala jerih payah,bukan untuk ditebang,dirobohkan lalu diperebutkan buahnya.
Kanggo mbasuh dodot iro, tafsir maknanya : air belimbing yang segar itu seharusnya untuk menjadikan pakaian jiwa dan pakaian jasad ( bahasa Jawa : dodot iro = pakaian kalian) kita semakin bersih dan utuh, bukan pakaian yang tambal-tambal,lusuh dan kotor.Air belimbing bisa ditafsiri bahwa perjuangan itu haruslah berjiwa spiritualis, untuk menggembalakan (mensejahterakan semua), bukan partainya sendiri, bukan kelompoknya sendiri, bukan golongannya sendiri lebih lagi bukan perutnya sendiri.
Dodot iro,dodot iro kumitir bedhah ing pinggir. Dondomono ,jlumatono, kanggo sebo mengko sore , tafsir maknanya : Dodot (pakaian jawa).Pakaian adalah perlambang akhlak, perilaku, landasan moral dan sistem nilai. Pakaian menggambarkan rasa malu, harga diri dan kepribadian. Dan pakaian itu telah terkoyak diberbagai sisi, robek oleh kerakusan,kesewenangan dan hilangnya rasa malu.Oleh sebab itu mari kita jahit robekan-robekan itu, menyambungnya kembali dan menjadikan itu kembali utuh untuk dikenakan.
Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane.Yo surako,surak....hiyooo, tafsir maknanya :mumpung cahaya rembulan itu masih memancar (cahaya Ilahi) untuk memberi terang alam semesta... Jangan lewatkan kesempatan.
Liiir iliiir .....liiir iliiir .................
Bangunlah, bangunlah wahai saudara-saudaraku................
0 komentar:
Posting Komentar