WHAT'S NEW?
Loading...
Radikalisme Dalam Pembacaan Sejarah Islam Kita
Ketika duduk di bangku SMA di Makassar tahun 1993, saya pernah disodorkan doktrin radikal ketika mula belajar tentang “islam”. Saat itu, seorang ustad berceramah di mimbar dengan pernyataan menggelitik, “Kadar keberimanan kita berbanding lurus dengan pengetahuan sejarah kita”.
Sejak itu, belajar agama buat saya semakin menarik. Padahal, di saat yang sama di kelompok kajian yang lain, saya justru diperkenalkan doktrin sebaliknya. Bahwa sejarah itu adalah pengetahuan yang penuh muslihat, kekotoran dan karenanya perlu dihindari. Maklum, sejarah peradaban islam, terutama di awal-awal dipenuhi oleh wacana kekerasan, peperangan dan sebagainya.
Saya bergeming. Hingga saya merantau dan kuliah di Bandung, doktrin ustad itu soal “sejarah berbanding lurus dengan keimanan” ini selalu saya dekap erat-erat. Saya menikmati belajar agama dengan adagium yang radikal itu. Radikal, karena menurut saya, itulah titik inti persimpangan jalan ketika menentukan ke arah mana anda hendak melangkah.
Pemahaman kesejarahan saya perkuat dulu, sebelum menentukan titik selanjutnya. Sejarah dari ragam versi saya coba gali, kemudian saya pilah dan kombinasikan dengan menggunakan ilmu ukur lain, untuk saya sintesis menjadi “keyakinan”.
Sejarah Islam, kemudian menjadi pisau analisis sekaligus kacamata yang saya pakai dalam memahamkan sesuatu. Di satu titik memang metode ini sangat subyektif, tapi setidaknya membuat saya terpuaskan.
Belajar sejarah juga kadang membuat kita menjadi bijak, setidaknya memancing rasa memahami dan menghargai alur pikir berbeda dalam setiap diskusi. “Oh iya, saya paham pijakan berpikir Anda dari sejarah mazhab yang anda yakini”.
**
Itulah mengapa buku-buku keIslaman yang paling saya gemari adalah yang memiliki sentuhan historisitas. Sisi historisitas agama memberikan pemahaman konteks yang terjadi ketika ayat-ayat suci dihadirkan ke tengah masyarakat. Saya percaya dinamika setiap ajaran agama, karena ia muncul sebagai respon Ilahi dan bagian dari dialog peradaban.
Buku “Dialektika Langit dan Bumi” karya guru saya Dr Abad Badruzaman, adalah satu dari sekian buku yang kembali memantik gelora pembacaan saya atas sejarah agama besar ini,
Islam dan sejarah mesti didudukkan dalam satu meja yang saling berdampingan, menguatkan. Bukan malah membuat keduanya berjauhan dan kemudian saling memusuhi.
Saya tak perlu mengungkap isi daripada buku keren ini, sebaiknya ditelusuri sendiri oleh para pembaca. Namun satu hal yang saya bisa sampaikan bahwa buku Abah ini sejalan dengan semangat di atas, bahwa Islam sebagai agama formal, di buku ini menjadi obyek yang adil dalam pembacaan sejarah. Bukan malah dimusuhi.

0 komentar:
Posting Komentar