WHAT'S NEW?
Loading...
Menakar Kemunafikan dan Gejala DK Yang Menghancurkan
Hyprocrisy (Kemunafikan ) tampaknya sudah menjadi wabah yang menyebar dimana-mana saat ini. Begitu mudah orang mengumbar ucapan A tapi melakukan hal yang berbeda , entah apa manfaat yang diperoleh dengan melakukan hal itu.
Dampak permainan politik, perang opini dan wacana yang agresif didunia maya, serta masyarakat era "post-truth" dan entah apa lagi menjadi hal yang sulit untuk dibendung.Dan akhirnya hypocrisy (kemunafikan) yang menyebar. Begitu mudah orang marah lantas menghina orang lain, sambil melakukan hal yang serupa dengan lawannya.
Sebagian mengutuki orang lain yang melakukan ucapan rasis atau tindakan-tindakan intoleransi tanpa sadar melakukannya dengan cara yang tidak berbeda dengan lawan yang menjadi target. Bergerak garang untuk melawan hoax (berita palsu ) maupun fitnah, sembari ikut serta menyerang dengan fitnah sebaliknya dan membagikan hoax dalam versi berbeda.Dan masih berderet lagi contoh lain betapa hypocrisy sudah sampai di titik yang memprihatinkan.
Bahkan lebih parah lagi, gejala ini telah melanda semua lapisan masyarakat,bahkan di level yang menurut ukuran keumuman baik intelektualitas maupun ketokohan hal itu mustahil dilakukannya. Yang bisa kita jumpai adalah begitu semangatnya orang mendikte kan orang lain apa yang seharusnya dilakukan, bagaimana harus bersikap dan apa yang benar menurut dirinya. Mereka mengatakan itu salah, tidak bermoral dan hal itu sebuah dusta.
Dan hal itu dilakukan pula oleh lawan di kubu yang berbeda.
Karakteristik dan Timing Hypocrisy (kemunafikan)
Banyak hal yang diberi label kemunafikan mungkin tidak benar-benar munafik,dan sebaliknya diwaktu yang berbeda, orang-orang munafik (hypocryte) justru terbebas dari label munafik ketika sejalan dengan suara opini yang dominan.
Misalnya, seorang yang selalu mendorong banyak orang untuk melakukan amal sedekah , sementara dirinya sendiri tak pernah melakukan apa yang dia serukan,sebenarnya ini adalah salah satu bentuk kemunafikan.Namun karena ketokohan orang tersebut, bisa jadi dia bebas dari label munafik (hypocrite).
Atau misalkan seorang tokoh politik dari sebuah partai dengan tag line yang menjunjung tinggi "kejujuran", anti korupsi dan akhlaq yang mulia yang kemudian justru menjadi tersangka bahkan lantas terbukti sebagai pelaku tindak korupsi.
Pada dasarnya, orang tidak bisa 100% rasional atau konsisten. Penilaian nilai biasanya subyektif , tidak obyektif. Hasilnya adalah penilaian terhadap pelaku hypocrysis (orang munafik / munafikun) juga menjadi bentuk kemunafikan yang berbeda lagi.
Manusia memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya sendiri lebih tinggi dari yang sebenarnya. Semua manusia memiliki bias dalam melakukan penilaian atas dirinya sendiri.
Maka menjadi bukan hal yang mengherankan, ketika otak kita dipenuhi bias kognitif dan memori yang diarahkan untuk membuat kita merasa lebih baik, lebih layak dan lebih mampu, tidak peduli realitasnya. Dan kita pun meyakini bahwa penilaian kita terhadap orang lain jauh lebih "realistis".
Kemunafikan memungkinkan anda untuk bisa tampil seolah menjadi manusia berprinsip tanpa harus benar-benar berprinsip. Dan hal ini mungkin jauh lebih mudah dijalani daripada berkomitmen pada prinsip-prinsip yang ketat. Politisi adalah kalangan yang paling sukses menjalani gaya semacam ini. Mereka bisa berorasi membuat pidato-pidato tentang hal-hal besar dan hebat yang akan mereka lakukan dan kemudian tak pernah mereka buktikan. Dan akan terus mereka lakukan mengingat betapa jarangnya mereka menderita konsekwensi dari apapun ketika apa yang mereka orasikan tidak terbukti,atau kemunafikan mereka terungkap.
Disonansi Kognitif
Disonansi kognitif (DK) merupakan sebuah teori psikologi yang menjelaskan, bahwa proses dimana ketidaksesuaian antara perilaku dan sikap/keyakinan menyebabkan ketidaknyamanan di otak.
Dissonansi Kognitif itu menjelaskan akibat dari kenyataan yang tidak diharapkan pada mental seseorang dan komunitasnya. Menurut teori Dissonansi Kognitif,setiap orang atau setiap komunitas yang punya kepercayaan yang sangat kuat dipegang, dan tidak diragukan sedikitpun,dan memotivasi semua aktifitas kehidupan mereka. Kepercayaan ini sangat kuat dipegang,dan tidak pernah terpikirkan akan gagal,tidak tercapai.Kepercayaan ini menjadi daya kehidupan, life force.Dan pada dasarnya semua manusia hidup dalam sesuatu sistem keyakinan (belief System), bahkan mereka yang menyatakan dirinya Atheis, bukan hanya kalangan yang relijius semata.
Kepercayaan yang kuat itu dipegang dan disamakan seolah sebuah kenyataan, dan kenyataan disamakan dengan kepercayaan.Titik. Tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Tetapi dalam dunia nyata , selalu terbuka kemungkinan bahwa sebuah kepercayaan apapun yang dipertahankan komunitas apapun sangatlah mungkin untuk gagal atau tidak terpenuhi. Ini adalah sebuah realitas kapanpun dan dimanapun.
Ketika muncul kenyataan yang bertentangan dengan isi kepercayaan yang diabsolutkan, maka terjadilah apa yang dinamakan Dissonansi Kognitif (DK). DK adalah kondisi jiwa (kognitif) yang tertekan berat akibat kenyataan yang muncul ternyata tidak sejalan (dissonansi) dengan isi kepercayaan yang diabsolutkan tersebut. Rasa frustasi/stress bahkan depresi akibat kenyataan yang berbeda dengan apa yang diyakini akan bermuara pada tindakan yang irasional, seperti bunuh diri, baik individual maupun massal.
Bisa jadi gagalnya suatu kepercayaan untuk mencapai realisasi nya tidak selalu berakhir dengan bunuh diri.Ada ekspresi lain yang justru paling banyak kita jumpai adalah, individu atau kelompok yang mengalami kondisi DK (Dissonansi Kognitif) akan semakin "kekeuh" atau kian fanatik dalam mempertahankan kepercayaan mereka yang gagal tersebut dan mungkin kian agresif dalam menjalankan kiprahnya di dunia sosial.
Penderita Dissonansi Kognitif (DK) tidak akan memilih mundur atau menyerah kalah, mereka akan menggunakan dua strategi penyelamatan dan pertahanan diri serta penggempuran.Dissonansi Kognitif adalah sebuah Hypocrysi (Kemunafikan) yang lebih parah lagi. Siapapun kita kiranya perlu lebih mengenal keyakinan yang kita pegang erat sebagai sebuah hal yang tetap layak dan punya ruang untuk dievaluasi , punya ruang untuk dikritisi dan diperdebatkan. Tanpa adanya kesediaan ruang itu, waspadalah akan ancaman Dissonansi Kognitif yang bisa menghancurkan.

0 komentar:
Posting Komentar