WHAT'S NEW?
Loading...
Kalau tak ada peta awal yang dibuat oleh pemuda peranakan Bugis-Peranggi, Manuel Godinho Eredia, mungkin Abel Tasman atau William Dampier tak pernah menemukan Australia, atau setidaknya tak mendapat petunjuk awal ke benua selatan itu.
Di pertengahan abad 16, tepatnya di tahun 1545, serombongan misionaris asal Peranggi (Portugis) berkunjung ke istana Suppa – salahsatu kerajaan yang terhampar di Ajatappareng – konfederasi negeri-negeri pesisir barat danau Sidenreng – Tempe, Sulawesi bagian Selatan.
Misionaris ini datang atas undangan La Putebulu, Datu Suppa – yang saat itu sedang berseteru dengan kerajaan Siang. Portugis yang sedang mencari koalisi kuat untuk membuka jalur ke kepulauan rempah, Maluku ini menyambut baik undangan Suppa, sekaligus bermaksud menyebarkan agama Katolik di kerajaan bugis itu.
Raja Suppa berikut bangsawan dan rakyatnya kemudian beralih memeluk agama Katolik, sekaligus mengukuhkan kerjasama militer dengan Portugis. Turut menjadi pemeluk Katolik adalah pemimpin negeri Ajatappareng lainnya, yakni raja Alitta, Bacukiki, Sawitto dan Sidenreng. Konon raja Siang, seteru Ajatappareng, juga ikut dibaptis beberapa hari setelahnya.
Gelombang Katolikisasi orang-orang Bugis ini rupanya berakhir singkat, hanya beberapa bulan atau beberapa tahun saja. Bubarnya persekutuan dua bangsa berikut mandeknya “dakwah” katolik ini akibat kejadian kecil yang mengganggu.
Penyebabnya soal si Manuel ini, atau tepatnya ayah si Manuel. Ayah Manuel, João de Erédia Aquaviva, adalah kapten kapal yang memgangkut rombongan misionaris ke Suppa yang dipimpin Vincente Viegas, 1545.
Di sela-sela “dakwah” rombongan Vincente di istana Suppa, Kapten Joae bertukar sapa dengan seorang anak gadis La Putebulu, yang dalam kronik Erdeia disebut bernama Dona Elena Vessiva. Mungkin nama ini sudah di-peranggi-kan. Nama asli, atau nama bugis bisa jadi berbeda, I Lena dari Suppa. Vessiva mungkin adaptasi dari nama asalnya: Suppa.
Joao dan Lena – yang saat itu disebutkan masih berumur 15tahun, saling jatuh hati. Diam-diam Joao menyelundupkan Lena ke atas kapalnya yang kemudian bertolak ke Malaka, markas kaum Peranggi di semenanjung barat Nusantara.
Istana Suppa kemudian gempar, dan kejadiaan ini seperti penghinaan. Sejak itu hubungan Peranggi dan Suppa, serta kerajaan Ajatappareng seperti hilang terbawa angin.
Manuel Eredia, lahir di Melaka tahun 1563, ia anak bungsu dari empat bersaudara buah kawin lari Joao – Elena. Ketika Manuel masih berumur 13tahun, Elena wafat di Melaka, 1575. Oleh ayahnya, Manuel yang cerdas kemudian dikirim belajar ke Goa, mendalami ilmu2 katolik dan sains.
Selepas masa belajar, Manuel menjadi kartografer andalan Peranggi yang mahir membuat peta kota-kota di Nusantara. Juga peta laut yang sangat membantu pelaut-pelaut Peranggi menjajaki koloninya. Peta-peta yang dibuat Manuel menjadi referensi utama saat itu. Bisa jadi karena ia mensintesis pengetahuan katrografinya dengan tutur cerita ibunya yang asal Suppa.
Iya tak hanya mengabdi ke Peranggi, tapi juga menjadi kepercayaan Raja Ispanya (Spanyol). Dia dikatakan membuat peta negara-negara Asia untuk raja Ispanya. Bahkan, saat menemukan kepulauan Meridional di selatan India, sang Raja memproklamirkan Manuel Eredia sebagai penemu pulau itu.
Pula, karena dianggap mengenali seluk beluk nusantara, terkadang kemampuannya dimanfaatkan untuk menaklukkan beberapa kota, diantaranya Muar dan Kota Batu di Johor.
Musabab titisan darah dan kecintaannya terhadap Nusantara, Manuel selalu merasa hendak “pulang” ke kampungnya. Kecintaannya ini diungkapkan dalam banyak map-map yang tersebar di antara pelaut-pelaut asing yang hendak menyusuri nusantara.
Salah satu peta paling mengesankan yang pernah dibuat Manuel adalah tentang “Nuca Antara” – yang mungkin namanya diambil dari selipan nusantara.
Tapi Nuca Antara yang digambarkan oleh Manuel adalah pulau besar yang terletak di selatan Jawa. Tahun 1601, ia sudah menggambar lokasi Nuca Antara ini, yang kemudian orang mengenalnya sebagai benua Australia.
Benua selatan ini, menurut cerita tutur pelaut-pelaut Bugis sudah lama dikenal dengan sebutan kepulauan Maregge, yang berarti hitam. Merujuk ke suku asli Aborigin yang menghuninya. Mungkin dari cerita-cerita ini, Manuel dengan yakin bisa menggambar lekuk pulau Nuca Antara ini.
Manuel wafat tak lama setelah impiannya menjajaki benua Australia kandas karena sakit, 1623.
Karena petunjuk Manuel ini – yang malah tak sempat menjajaki benua “temuannya” itu, Abel Tasman (1642) dan William Dampier (1688) kemudian menjejakkan kaki di benua Kanguru itu. Satu abad setelah peta Manuel dibuat itu, James Cook (1770) kemudian melakukan kolonisasi Australia untuk kerajaan Inggris


Benarkah penganut agama Zoroaster menyembah api? Tidak sesederhana itu Ferguso...

Dalam menjelaskan konsep monistik, Zoroaster meyakini adanya satu Tuhan sejati, yaitu Ahura Mazda, yang bersifat azali serta kekal selamanya. Dia adalah pencipta segalanya. Dia penganjur kebijaksanaan, keadilan dan kebaikan, yang mutlak terpisah dari unsur kejahatan dan kezaliman.

”Aku mengenal Engkau dalam pikiranku, wahai Mazda. Engkaulah yang awal dan yang akhir, Engkaulah satu-satunya yang patut disembah, sumber ajaran kebaikan, pencipta kebenaran dan keadilan, dan hakim atas semua perbuatan kami di dunia ini. Karenanya aku tempatkan engkau di hati sanubariku.” (Yasna 31:8)

Zoroastrianisme mempunyai prinsip dualisme yang mempercayai bahwa ada dua kekuatan yang bertentangan dan saling beradu. Pengikut Zoroaster meyakini adanya ruh jahat, yaitu Ahriman, sebagai simbol dari kejahatan. Bagi mereka, alam semesta merupakan ajang pergulatan antara kebaikan dan kejahatan, keadilan dan kezaliman, serta antara kegelapan dan cahaya terang. Dan pertarungan sengit ini harus dimenangkan oleh kebaikan, keadilan dan cahaya.

Adapun manusia, sebagai mikrokosmos bergulat dengan dua kekuatan dalam dirinya. Manusia diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan, bebas berpihak kepada yang gelap atau yang terang. Manusia memiliki “freedom of choice”. Namun berdasarkan hukum sebab-akibat manusia harus bertanggung jawab atas pilihannya tersebut, serta siap menerima konsekuensinya.

Terkait dengan api, Zoroastrian menyembah Ahura Mazda sebagai Tuhan cahaya. Api suci dinyalakan sebagai simbol cahaya Ahura Mazda yang keberadaannya terkait dengan proses penyucian jiwa. Zoroaster menegakkan kebenaran misinya dengan ancaman hukuman kepada para pendosa dengan api dan baja yang dicairkan kelak di hari akhir. Perlu dipahami bahwa api di sini bukan api dalam pengertian literal, namun lebih kepada pengertian api ruhani yang terpendam dan bersinar terang di hati setiap pengikut Zoroaster yang saleh.

Sebagaimana tradisi khas agama-agama profetik, selain berbicara tentang eskatologi, hari akhir, dan hal lainnya, bahkan Zoroaster berbicara pula tentang ekspektasi mesianik. Salah satu topik utama yang dibahas dalam agama-agama besar Abrahamik. Terlepas dari fakta bahwa satu sama lain saling mempertentangkan secara konsep, yang pasti semuanya mempercayai akan datangnya seorang penyelamat di masa depan. Demikian pula dengan Zoroaster.

Zoroastrianisme tidak menekankan pentingnya konversi. Mereka tidak seperti sebagian kawan kita yang euforia jika ada yang menjadi mualaf dan histeria jika ada yang murtad. Zoroastrian berusaha mempertahankan agamanya sebagai agama yang khas dalam komunitas mereka. Saat ini, penganut Zoroastrianisme banyak tersebar di Iran dan India, juga dapat ditemukan di kota-kota besar seperti London, New York, Chicago, Boston dan Los Angeles. Mereka hidup berbaur di tengah komunitas agama lainnya.

***

Banyak hoax beredar yang jika dibiarkan lama-kelamaan akan dianggap sebagai informasi yang valid. Dan Zoroaster sebagai penyembah api adalah hoax yang dikenal luas di tengah masyarakat kita. Bahkan disampaikan pula di bangku sekolah sejak kita SD, SMP atau SMA. Sama halnya seperti hoax tentang agama tertentu menyembah patung atau berhala, atau Syiah yang menuhankan Ali, misalnya. Tentang Syiah ini, bahkan sahabat masa kecil saya yang lulusan S3 bidang ilmu bumi dari PTN papan atas percaya bahwa Syiah makan tahi imamnya.

Jadi Ferguso, jangan mudah menelan bulat-bulat informasi yang menurut timbangan akal sehat terasa ganjil ya....

1815. Salah satu suku asli nusantara, berikut bahasa tuturnya, Tambora, hilang dan punah disapu letusan gunung Tambora. Bersama suku Tambora, konon ada sekitar 50ribu hingga 117ribu jiwa korban kematian akibat murka gunung setinggi 2850mtr ini.

Efek letusan Tambora ini menjangkau pula benua Eropa, dikenal dengan masa “a year without summer” – karena efek erupsinya, langit eropa sepanjang tahun 1816 tertutup awan pekat dari letusan gunung api ini. Konon, tak ada sinaran cahaya matahari setahun itu. Gelap dan buram saja. Seperti suasana sosmed jelang pilpres.

Bahasa Tambora, bahasaa yang sudah punah itu, ternyata dimasukkan ke dalam rumpun Bahasa Papua.

==

Papua, pulau besar yang terbelah ke dalam dua negara ini dianggap sebagai kawasan yang paling kaya akan ragam bahasa. Penduduk asli pulau ini berlimpah kekayaan bahasa dengan 800 variasi bahasa yang tersebar dari kepala burung dan Halmahera hingga ke teluk Milne di ekor Papua Nugini. Terkadang masing-masing tidak memiliki keterkaitan akar kata satu dengan lainnya. Belum lagi beberapa bahasa unik yang tak bisa dikelompokkan ke dalam Bahasa Papua karena perbedaan yang sangat tajam. Menurut ahli Bahasa, sebaran bahasa Papua ini berbeda dengan puak bahasa Melanesia di pasifik atau bahasa-bahasa Austronesia yang dituturkan penduduk Asia tenggara.

Dengan penutur yang diperkirakan berjumlah 4 juta jiwa, kelompok bahasa-bahasa Papua juga mencapai Sumbawa dan Timor Timur. Salah satu variasi bahasa Papua di Sumbawa, yakni bahasa Tambora sudah punah sejak 1815 karena penutur-penuturnya tewas disapu letusan dahsyat gunung Tambora. Tambora ini juga dikenal sebagai titik paling barat sebaran bahasa-bahasa Papua. Keberadaan kosa kata bahasa Tambora sempat dibukukan tahun 1817 oleh Raffless, sang Gubernur Jendral Inggris di Indonesia yang memang gemar menulis etnografi nusantara saat memerintah. Beberapa bahasa yang dipakai penduduk Timor Timur juga diidentifikasi sebagai bagian dari keluarga bahasa-bahasa Papua semisal Fataluku dan Makasae yang jamak dituturkan oleh penduduk Timor bagian timur.

Dari 800-an varian Bahasa Papua, hanya ada sekitar 10 bahasa yang dituturkan secara luas oleh lebih dari 20ribu jiwa. Bahasa-bahasa dominan ini diantaranya; Dani (180ribu penutur), Ekari (100ribu) di Papua Indonesia, kemudian ada Enga, Huli, Melpa dituturkan di Papua Nugini. Selain di pulau Papua, ada juga Makasae dan Fataluku yang dijadikan bahasa sehari-hari orang Timor Timur, juga ada Galela di Halmahera Maluku.

Untungnya, tak ada di antara Bahasa Papua itu yang punah selain Bahasa Tambora yang disapu letusan gunung tahun 1815. Meski ada juga beberapa bahasa-bahasa Papua yang digolongkan terancam punah, namun upaya peletarian bahasa-bahasa lokal ini diupayakan terus menerus melalui berbagai penelitian dan pengembangan yang melibatkan organisasi internasional. Menurut catatan UNESCO yang diterbitkan tahun 2010, ada 88 jenis bahasa Papua yang terancam punah yang sedang diupayakan pelestariannya.

==

TAHUN 2050, diperkirakan 90% dari bahasa yang ada di dunia saat ini – sekitar 7000 bahasa, akan punah. Artinya ada 6000-an bahasa yang kehilangan penuturnya. Kebanyakan bahasa ini punah karena terjajah dan tergantikan oleh bahasa yang lebih jamak dipakai oleh orang-orang sekitarnya. Salah satu contoh yang paling sering dibicarakan oleh para ahli bahasa adalah bahasa2 asli Amerika. Sebagian besar bahasa tempatanyang dituturkan oleh suku Indian ini punah karena terdesak oleh penggunaaan bahasa Inggris, Perancis, Spanyol dan Belanda sebagai akibat langsung dari proses kolonialisasi. Kalau tak punah, bahasa itu tercemari oleh kosa kata baru dari bahasa pendatang.

Bahasa melayu juga demikian. Saya kadang mengalami kesulitan memahami kosa kata dari teman yang bertutur melayu Malaysia. Kalau tak bertanya, mungkin tak akan paham maksudnya. Sebahagian kata-kata yang tak dimengerti itu rupanya adalah kosa kata yang tergerus atau berubah karena sentuhan bahasa asing itu.

Suatu saat bahasa Bugis, Jawa, Sunda, Batak mungkin akan ikut punah atau tercemari oleh kosa kata yang merengsek masuk dari luar. Itu seperti keniscayaan zaman, apalagi serbuan pengaruh media semakin beringas di zaman kini. Meski bahasa berangsur-angsur punah, atau berubah, namun cara manusia berkomunikasi selalu akan menemukan bentuknya. Selamat BERBAHASA.

Ini menyedihkan. Seorang Ibu meledakkan diri di rumahnya semalam (13-03-2019) di Sibolga. Di dalam rumah yang malang itu, sang ibu tinggal bersama dua anaknya yang masih kecil. Kabar terakhir menyebutkan bahwa mereka tewas dalam ledakan itu.

Sang suami, yang menurut berita disebut bernama Husain atau Abu Hamzah, sudah lebih dulu ditangkap aparat. Konon, penangkapan ini karena ada dugaan aklsi terorisme yang dilakukan oleh mereka.

Seusai penangkapan Abu Hamzah yang diduga jaringan kelompok radikal bersenjata, aparat kepolisian berupaya menggeledah rumah Abu Hamzah. Namun ada benda diduga bom meledak saat polisi hendak masuk ke rumah. Sang Ibu yang ada di dalam rumah belum menyerah.

Semalam, ledakan berikutnya terdengar dari dalam rumah. Kabarnya sang ibu meledakkan diri. Dari polisi kita mendengar kabar duka bahwa ibu dan anak-anaknya tewas seketika.

**

Saya tak mengerti bagaimana seseorang memperlakukan hidup ini begitu muramnya. Apalagi, kalau ia meyakini bahwa semua orang di dunia ini memusuhi dirinya.

Keyakinan seperti ini disebut delusi, yakin akan sesuatu yang salah. Ini bisa berasal dari doktrin atau ajaran yang secara intens dicekokkan ke pikirannya. Sesuatu ide atau pikiran yang disampaikan berulang-ulang, apalagi dengan teknik provokasi dan persuasi, akan diterima sebagai kebenaran. Iya, seperti ajaran agama. Berulang-ulang, intens dan disertai janji dan ancaman.

Kalau delusi ini berhubungan dengan agama, maka para ahli menyebutnya sebagai Relusi.

Religious delusion, ini istilah teknis yang diperkenalkan oleh kaum atheis untuk melabeli mereka yang mengidap penyakit delusional, merasa benar sendiri – tak menerima kritik dan menolak adanya perbedaan, yang berkaitan dengan pemahaman keagamaan atau ketuhanan.

Di Jepang, dulu ada sekte agama baru bernama Aum Shinrikyo. Mendengar nama sekte ini, orang mungkin akan bergidik ngeri.

Pemimpinnya, Shoko Asahara, seorang lelaki buta yang baru beberapa tahun mempelajari agama-agama dunia, tetiba di tahun 1984 mendaku diri sebagai Yesus, sang Juru Selamat. Dalam memengaku memiliki kekuatan supranatural yang bisa dia pindahkan ke pengikutnya.

Selain menubuatkan tentang kiamat, yang akan didahului oleh perang dunai ke-3 dengan serangn nukir mematikan, dia juga menganggap Yahudi, Freemasonry dan beberapa kelompok sebagai musuhnya. Yang anehnya, dia juga memasukkan pemerintah Belanda dan Inggris dalam daftar kelompok yang mesti dibasmi.

Kalau hanya retorika ajaran dan disampaikan sebatas mimbar saja, mungkin orang masih tak begitu khawatir.

Masalahnya, Asahara ternyata memerintahkan pengikutnya, yang semakin banyak setiap saat, untuk juga beraksi melenyapkan musuh-musuhnya.

Tahun 1995, sekelompok pengikut garis kerasnya menebarkan gas Sarin yang beracun di stasiun metro Tokyo. Akibatnya 13 orang tewas seketika, dan ribuan lainnya menderita cedera berat.

Setelah kejadian itu, kemudian terungkap bahwa sekte ini juga melakukan 27 pembunuhan lainnya, termasuk membunuh keluarga pengacara yang menuntut dirinya di pengadilan.

Tsutsumi Sakamoto, pengacara cemerlang yang masih berusia muda, 33 tahun, tewas bersama istri dan anaknya yang masih berusia 14 bulan ketika apartementnya diserbu oleh pengikut Shinrikyo di tahun 1989. Pengacara yang berhasil menyeret Asahara ke meja hijau itu dicekik dan disuntik dengan klorida.

Mayat Sakamoto beserta istri dan anaknya dimasukkan ke 3 galon besi berbeda dan dibuang saling menjauh. Sampai tahun 1995, nasib keluarga ini tak ketahuan rimbanya. Mereka dianggap menghilang begitu saja. Hingga kemudian terungkap 6 tahun setelah kejadian, ketika pengadilan berhasil memaksa algojo-algojo Asahara untuk mengakui pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya.

Asahara, berikut beberapa pentolan kelompok ini kemudian dihukum mati dengan cara digantung tahun 2018 silam. Kejahatannya yang tak alang kepalang ini membuat orang bergidik. Bagaimana mungkin sebuah keyakinan, delusi, bisa menyebabkan orang tergerak untuk melakukan kejahatan yang mengerikan.

Itu di Jepang. Kita juga punya banyak cerita lain di belahan dunia berbeda. Di Suriah kita mengenal kelompok durjana bernama ISIS dan beberapa sempalannya. Di Afghanistan, ada Taliban, juga alQaeda.

Wajah mengerikan kelompok relusi berbusana agama ini selalu muncul, sayangnya. Dan parahnya, banyak yang meyakini kebenarannya. Itu mungkin bersumber dari sikap frustasi menghadapi dunia yang serasa tak adil terhadap mereka. Terang saja tak adil, kalau mereka tak ikut “menikmati” betapa lezatnya hidup nyaman dan tenang dengan keluarga yang tentram.

Tapi perasaan tak adil atau tak merasa diperlakukan adil itu bukan menjadi pembenaran untuk menganggap yang lain sebagai musuh dan kemudian mesti dibasmi. Itu delusi, atau relusi.

Bukankah dalam setiap ajaran agama selalu kita mendengarkan petuah bahwa kebahagiaan orang lain sejatinya adalah kebahagiaan kita sendiri. Memuliakan tetangga dan tamu, menghormati hak-haknya adalah setinggi-tingginya akhlak beragama?

Sikap relusi ini, delusi karena keyakinan keagamaan yang salah, mesti kita perangi terus menerus. Agar tak ada lagi kasus ibu meledakkan diri bersama anak-anaknya, yang mungkin saja memiliki masa depan yang cerah, tak seperti orang tua mereka yang delusional.

Mari kawan-kawan, kita hentikan penyebaran kebencian dan sikap permusuhan ke orang lain. Nasib buruk atau kemalangan itu manusiawi, bisa terjadi pada siapa saja. Namun uluran tangan atau komunikasi positif dengan sesama tentu bisa meringankan beban, apalagi kalau bisa ikut membantu menghilangkan kesulitan.

Ketika duduk di bangku SMA di Makassar tahun 1993, saya pernah disodorkan doktrin radikal ketika mula belajar tentang “islam”. Saat itu, seorang ustad berceramah di mimbar dengan pernyataan menggelitik, “Kadar keberimanan kita berbanding lurus dengan pengetahuan sejarah kita”.

Sejak itu, belajar agama buat saya semakin menarik. Padahal, di saat yang sama di kelompok kajian yang lain, saya justru diperkenalkan doktrin sebaliknya. Bahwa sejarah itu adalah pengetahuan yang penuh muslihat, kekotoran dan karenanya perlu dihindari. Maklum, sejarah peradaban islam, terutama di awal-awal dipenuhi oleh wacana kekerasan, peperangan dan sebagainya.

Saya bergeming. Hingga saya merantau dan kuliah di Bandung, doktrin ustad itu soal “sejarah berbanding lurus dengan keimanan” ini selalu saya dekap erat-erat. Saya menikmati belajar agama dengan adagium yang radikal itu. Radikal, karena menurut saya, itulah titik inti persimpangan jalan ketika menentukan ke arah mana anda hendak melangkah.

Pemahaman kesejarahan saya perkuat dulu, sebelum menentukan titik selanjutnya. Sejarah dari ragam versi saya coba gali, kemudian saya pilah dan kombinasikan dengan menggunakan ilmu ukur lain, untuk saya sintesis menjadi “keyakinan”.

Sejarah Islam, kemudian menjadi pisau analisis sekaligus kacamata yang saya pakai dalam memahamkan sesuatu. Di satu titik memang metode ini sangat subyektif, tapi setidaknya membuat saya terpuaskan.

Belajar sejarah juga kadang membuat kita menjadi bijak, setidaknya memancing rasa memahami dan menghargai alur pikir berbeda dalam setiap diskusi. “Oh iya, saya paham pijakan berpikir Anda dari sejarah mazhab yang anda yakini”.


**

Itulah mengapa buku-buku keIslaman yang paling saya gemari adalah yang memiliki sentuhan historisitas. Sisi historisitas agama memberikan pemahaman konteks yang terjadi ketika ayat-ayat suci dihadirkan ke tengah masyarakat. Saya percaya dinamika setiap ajaran agama, karena ia muncul sebagai respon Ilahi dan bagian dari dialog peradaban.

Buku “Dialektika Langit dan Bumi” karya guru saya Dr Abad Badruzaman, adalah satu dari sekian buku yang kembali memantik gelora pembacaan saya atas sejarah agama besar ini,

Islam dan sejarah mesti didudukkan dalam satu meja yang saling berdampingan, menguatkan. Bukan malah membuat keduanya berjauhan dan kemudian saling memusuhi.

Saya tak perlu mengungkap isi daripada buku keren ini, sebaiknya ditelusuri sendiri oleh para pembaca. Namun satu hal yang saya bisa sampaikan bahwa buku Abah ini sejalan dengan semangat di atas, bahwa Islam sebagai agama formal, di buku ini menjadi obyek yang adil dalam pembacaan sejarah. Bukan malah dimusuhi.


Saat menerima paket buku (gratis lho) bertajuk Dialektika Langit dan Bumi: Mengkaji Historisitas al-Qur’an Melalui Studi Ayat-Ayat Makki-Madani dan Asbâb al-Nuzul dari sang penulis, Dr. Abad Badruzaman, ingatan saya melompat ke sekitar tahun 1990-an saat saya bergelut cukup intens dengan suatu kelompok pergerakan Islam yang menawarkan model pengamalan Alquran dengan menggunakan periodesasi Alquran, yakni periode Makkah dan Madinah. Kelompok tersebut mengatakan bahwa saat ini umat manusia berada dalam periode Makkah, sehingga pengamalan Alquran yang dituntut untuk periode ini adalah pendalaman akidah tauhid. Karenanya, di sini orang tidak perlu melakukan salat fardu lima kali dalam sehari. Kalaupun orang mau salat, cukuplah ia mendirikan salat malam sebagai sang Nabi melakukannnya. Sementara, pada periode Madinah, orang dituntut untuk menegakkan hukum-hukum sosial kemasyarakatan termasuk hukum-hukum jihad.

Tentu saja, melalui proses sejarah yang cukup panjang pemahaman seperti di atas tak bisa dipertahankan. Banyak kelemahan premis di situ. Di antaranya, siapa yang punya otoritas untuk menetapkan bahwa saat ini masuk periode Makkah karena itu kewajiban manusia adalah seperti ini? Dan seterusnya.

*****

Buku Dialektika Langit dan Bumi  (DLB) ini tak pelak lagi tidak menawarkan hal itu. Terdiri dari enam bab, buku yang ditulis dengan model kampusan (heheh) tersebut (tapi tetap asyik dibaca karena pilihan diksi dan argumentasi yang dibangunnya) menyajikan gagasan tentang pentingnya memahami Alquran dengan melihat aspek historis pewahyuan Alquran plus asbab al-nuzul-nya. Karena dengan memerhatikan hal semacam ini pembaca akan terbantu dalam “… menafsirkan Alquran, …mengetahui sejarah pembentukan dan perkembangan hokum Islam secara umum, … membantu merasakan keindahan Bahasa Alquran … dst. (hal.38).

Hemat saya, ide pokok buku DLB adalah bahwa bagaimana pewahyuan Alquran itu seringkali merupakan respons atas situasi yang menimpa muslimin pada saat itu. Ada proses dialelektika antara kitab dari langit dengan hati manusia di bumi. Beberapa contoh ayat hokum seperti hokum waris, pengharaman khamar, ayat-ayat jihad ditampilkan di buku ini untuk menunjukkan betapa proses dialektika itu terjadi (Bab Tiga). Seingat saya gagasan yang kurang lebih sama pernah diusung oleh Fazlur Rahman dengan Neomodernisme-nya, yang diteruskan oleh cendekiawan asal Indonesia, Nurcholish Madjid, ataupun Muhammad Baqir al-Shadr, untuk menyebutkan beberapa.

Saya melihat kepiawaian penulis DLB tampak minimal dalam dua hal (punten Bah): pertama, keprigelan dalam “menjahit” gagasan-gagasan dari seabreg referensi (Bahasa Arab lagi) dan kedua, kecakapan dalam merefleksikan dan mengkontekstualisasikan ayat-ayat yang turun di Makkah dan di Madinah serta Asbab al-Nuzul seperti yang ada pada sekujur Bab Empat dan Bab Lima. Dalam kasus surah al-Fatihah, penulis memberikan sentuhan sufistik atas ayat-ayat dalam surah tersebut. Hingga makna-makna yang terkandung dalam surah tersebut mampu membasahi relung jiwa. Menutupi perenungan atas surah al-Fatihah, penulis mengatakan, “setiap hamba harus mengamalkan nilai-nilai al-Fatihah dalam kesehariannya, tanpa memedulikan apakah surah al-Fatihah ini makkiyah atau madaniyah. Sebab, nilai-nilai dikandungnya sangatlah universal, berlaku bagi siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Secara keseluruhan, buku ini penting untuk dikaji khususnya oleh para mahasiswa Ulumul Quran. Bagaimanapun, dengan melihat bab demi bab dari buku ini, masyarakat umum pun dapat menikmati gagasan sang penulis asal Ciamis ini.

*****

Terakhir, ini sifatnya subjektif. Saya suka iseng melihat referensi yang dipakai oleh penulis suatu buku; apakah ia termasuk pemikir berwawasan terbuka, menyukai persatuan, menggemari esoterisme, ataukah tidak. Dan, trala, beberapa kitab yang dikutip oleh Abah berasal dari karya ulama favorit saya. Karena itu, saya nyatakan bahwa DLB adalah buku yang sah untuk saya pelajari… (bercanda Bah)!





Dalam fisika dasar , kalau kita sedang membahas gelombang bunyi, akan kenal yang disebut dengan resonansi , yaitu peristiwa ikut bergetarnya suatu sistem fisis dengan nilai frekwensi tertentu akibat pengaruh sistem fisis lain yang bergetar dengan frekwensi yang sama.
Kalo gak ingat coba deh buka-buka lagi buku IPA SD ..
Gelombang bunyi pada dasarnya adalah rambatan energi.

Demikian juga alam semesta serta manusia, pada dasarnya adalah bentuk-bentuk energi pula. Maka sesungguhnya bila anda pernah mendengar tentang Law Attraction (hukum ketertarikan) yang seolah-olah agak mistis itu , sebenarnya bisa dijelaskan dengan mudah dengan fisika. Tepatnya dengan menggunakan penjelasan tentang resonansi .


Resonansi Pikiran Negatif dengan Situasi Negatif

Mahluk bernama manusia tidak hanya terbangun dari tubuh fisis semata, namun ada bagian tubuh halus (tak nampak ) yang bisa kita identifikasi dengan istilah : rasa, emosi. Ketika orang mendapatkan berita sedih, mungkin secara fisik tidak ada bagian tubuh nya yang luka atau cedera, namun ternyata bagian non fisik yang akan menderita kesedihan. Hal ini bukti adanya bagian tubuh halus manusia.
Ketika seseorang sedang berpikir tentang suatu hal yang menggembirakan, maka emosi nya pun ikut gembira, tubuh fisik juga akan merespon dengan antusiasme gembira yang merupakan hasil dari proses kimiawi tubuhnya.
Berbagai senyawa kimia yang dihasilkan oleh metabolisme tubuh bisa memberi andil pada rasa sedih yang dirasakan, atau sebaliknya rasa gembira atau bahagia.

Pada manusia kendali ada di pikiran kita, ketika suatu peristiwa itu menghantar pada rangsangan kesedihan (negatif) , jika kita membiarkan impuls negatif tersebut beresonansi dengan pikiran negatif kita, maka yang terjadi adalah menarik situasi kearah negatif juga. Seperti sebuah garputala yang bergetar mampu menggetarkan benda lain karena frekwensi sama. Bila situasi yang sedang menjadi impuls adalah situasi negatif, jangan biarkan resonansi terjadi, karena seolah akan "mengundang" situasi negatif yang lebih besar untuk terjadi. Semakin kuat pikiran negatif anda, maka akan semakin banyak hal negatif yang tertarik datang. Maka cobalah tetap mengendalikan pikiran agar selalu positif apapun situasi yang terjadi.

Haruskah Memaksakan diri Bahagia ?

Berpindah dari situasi negatif ke tempat positif bukan hal yang mudah, dan bisa jadi terasa tidak alami, dan bila terlalu dipaksakan biasanya justru gagal.
Pertama yang bisa dicoba adalah mencoba beralih suasana, untuk membuat pikiran lebih rileks dan membangkitkan optimisme. Melakukan kegiatan-kegiatan kreatid juga dapat menciptakan efek positif.
Bila telah cukup stabil, ada saatnya perlu melakukan perubahan yang dramatis meninggalkan segala situasi negatif untuk beralih pada kondisi positif.

Lalu bagaimana manfaat ketika kita senantiasa berpikir positif ?


Ketika pikiran senantiasa terjaga selalu positif, maka bila suatu saat ada stimulus getaran positif yang menghampiri, efeknya akan luarbiasa. Resonansi antara pikiran positif dan getaran positif dari alam semesta itu akan tergabung. Apa-apa yang selama ini masih tersimpan dalam pikiran (angan-angan),baik ide, gagasan, imaginasi, cita-cita, juga daya kreasi seolah mendapatkan jalannya menjadi terealisasi wujudnya.
Apalagi bila pikiran terlatih selalu dalam kondisi bawah sadar secara positif ,maka ini akan mempengaruh kemampuan kita untuk masuk ke resonansi dengan apa-apa yang benar-benar kita inginkan.

Menariknya, ketika kita benar-benar menjalani kehiduan secara positif, Law Attraction ini bekerja sesuai keinginan kita., bahkan tanpa usaha atau pertimbangan sadar. Seperti itulah resonansi terjadi.
Jadi hidup dalam keadaan positif, penuh gairah akan secara otomatis menempatkan kita pada resonansi getaran dengan apa yang menjadi keinginan kita.

Oleh sebab itu, bila selama ini hidup seolah belum memihak pada anda, dan anda lebih banyak berada pada situasi yang tidak anda suka, hal pertama yang perlu dilakukan adalah evaluasi diri. Situasi negatif mungkin hal yang tidak mudah dihindari, tapi tetap menjadikan pikiran selalu dalam kondisi positif, setidaknya akan menahan anda tidak kian terbawa arus yang merusak dan menenggelamkan diri pada kondisi negatif.
Setelah pikiran mampu kembali pada kondisi positif, kiranya perlu mencari suasana, teman-teman baru, belajar hal-hal baru yang searah dengan apa yang kita inginkan. Dari sana lah nanti kita berharap, datangnya impuls positif yang akan bertemu dengan pikiran positif, terjadilah resonansi positif yang mengubah dunia menjadi lebih indah dan penuh harapan